ASIA TENGGARA
Pemerintah Malaysia Mulai Kehilangan Pendukung Tionghoa
Senin, 04 Juni 2012 11:35 wib
Fajar Nugraha - Okezone
Protes warga Malaysia atas pemerintah (Foto: Reuters)
KUALA LUMPUR - Warga etnis Tionghoa di Malaysia mulai berpikir ulang untuk memberikan suara mereka kepada pemerintah yang berkuasa saat ini. Mereka merasa terasingkan dalam koalisi pemerintahan.
Dukungan untuk Perdana Menteri Malaysia Najib Razak dari para pemilih etnis Tionghoa dikabarkan menurun drastis. Menurut lembaga independent Merdeka Center, dukungan dari etnis Tionghoa menurun menjadi 37 persen pada Mei dari 56 persen yang diperoleh pada Februari.
Merdeka Center juga menyebut bahwa 56 persen warga etnis Tionghoa merasa tidak puas dengan pemerintah. Angka ini lebih tinggi daripada rasa ketidakpuasan yang ditunjukan oleh warga etnis India yang mencapai 30 persen dan 23 persen warga Melayu. Demikian diberitakan Reuters, Senin, (4/6/2012).
Hasil ini dibuktikan dari pemilu daerah dan pemilu sela yang berlangsung di Malaysia. Malaysian Chinese Association (MCA), sebagai wadah terbesar dari etnis Tionghoa, menderita kekalahan pada pemilu wilayah Sarawak.
Mereka kehilangan 13 kursi dari 19 kursi yang disediakan dalam pemilu daerah Sarawak tahun lalu. Tidak hanya itu, koalisi oposisi Malaysia pun memenangkan pemilu sela Malaysia pada 2010. Kemenangan pihak oposisi ini tidak lepas dari dukungan warga etnis Tionghoa yang menjadi minoritas di Negeri Jiran.
Pengalaman serupa juga terjadi para 2008 lalu. Saat itu, 6,5 juta warga etnis Tionghoa beralih melawan Koalisi Nasional. Perlawanan ini menimbulkan gangguan bagi pihak Koalisi Nasional yang sudah berkuasa sejak lepas dari Inggris 1957 silam.
Malaysia melihat sendiri etnis Tionghoa yang meninggalkan negara mereka demi mencari prospek yang lebih cerah di negara lain, khusus negara seperi Singapura. Masalah etnis memang harus dibereskan oleh Malaysia, karena dianggap mengganggu proses reformasi negara itu.
Tetapi Pemerintah Malaysia menilai isu etnis tidak banyak memiliki masalah. Beberapa warga minoritas melihat upaya pemerintah mengatasi upaya perpecahan etnis, hanya sebuah propaganda yang tidak disertai kebijakan.
(faj)
Berita Selengkapnya Klik di Sini