Presiden Venezuela Hugo Chavez (Foto: Telegraph)
CARACAS - Venezuela dengan bantuan Rusia dikabarkan mulai merakit senapan serbu Kalashnikov (AK-103) dan memproduksi pesawat pengebom. Hal itu diumumkan oleh Presiden Venezuela Hugo Chazev.
"Venezuela juga sudah mulai membuat granat, amunisi dan pesawat pengintai. Sejauh ini kami telah selesai mengerjakan tiga pesawat pengintai," ujar Presiden Chavez, yang dikutip Associated Press, Kamis, (14/6/2012).
Presiden Chavez menegaskan, proyek yang tengah dijalankan Venezuela ini sama sekali tidak bertujuan untuk melancarkan serangan ke pihak mana pun.
"Kami tidak berniat menyerang siapapun. Proyek ini bertujuan untuk membangun pertahanan serta perdamaian," tutur Chavez.
Sementara itu, ketua pengelola produsen senjata Venezuela Jenderal Julio Cesar Morales Preto mengatakan, sampai saat ini sudah terdapat 3 ribu senapan AK-103 yang telah dirakit. Jumlah ini merupakan total senjata yang berhasil dirakit sejak Venezuela dan Rusia menandatangani perjanjian pembangunan pabrik perakitan senjata Kalashnikov pada 2005 lalu.
"Produksi telah dimulai bahkan ketika pabrik tersebut belum selesai dibangun. Pabrik ini nantinya mampu memproduksi 25 ribu senapan AK-103 setiap tahunnya," ujar Jenderal Morales Preto.
Produksi telah dimulai meskipun pabrik belum diselesaikan, Morales mengatakan Prieto. Ini akan memiliki kapasitas untuk memproduksi 25.000 senapan setahun.
Proyek perakitan peralatan militer ini kabarnya mendapat kecaman dari sejumlah lawan politik Chavez. Mereka menilai dana miliaran dolar yang dihabiskan Pemerintahan Chavez untuk membeli dan memproduksi senjata seharusnya digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan serta pembangunan infrastruktur di negeri itu.
Sejak 2005 lalu Venezuela dilaporkan telah menghabiskan dana miliaran dolar untuk meningkatkan kapasitas militernya dengan membeli sejumlah kendaraan militer seperti jet tempur, kendaraan lapis baja serta 100 ribu senapan Kalashnikov buatan Rusia.
Di bawah kepemimpinan Chavez selama 13 tahun terakhir, Venezuela dikenal sebagai negara yang kerap kali berseberangan dengan Amerika Serikat (AS). Chavez bahkan menggambarkan AS sebagai negara imperialis yang ingin menguasai cadangan minyak Venezuela. (rhs)
getting time ...
Belajar bahasa Inggris melalui dua berita BBC tentang manfaat yodium bagi wanita hamil dan masalah penghindaran pajak di Eropa.
Victims of the cholera epidemic in Haiti have given the United Nations a 60 day deadline to start talks about compensation or face legal action.
Kamis, 23 Mei 2013 01:01 WIB
Rabu, 22 Mei 2013 21:01 WIB
Rabu, 22 Mei 2013 19:03 WIB