Relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Andhika Swasono (Foto: Aulia Akbar/okezone)
JAKARTA - Relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Andhika Swasono bercerita tentang pengalamannya mengirimkan bantuan untuk pengungsi Rohingya di Bangladesh. Kondisi warga Rohingya di negara tersebut sangat memilukan.
Andhika berada di Bangladesh selama kurang lebih 40 hari. Ayah dari satu orang anak itu berlebaran di Bangladesh dan mendistribusikan bantuan di beberapa wilayah yang dihuni warga Rohingya.
Menurut Andhika, warga Rohingya di wilayah Saplapur, Bangladesh, menjalani hidup yang sengsara. Mereka hidup di rumah yang tidak sama sekali layak dihuni.
"Rumah pengungsi Rohingya di saplapur memperihatinkan. Lantai mereka terbuat dari pasir pantai yg dikeraskan. Mereka tidur di karung goni. Dindingnya kayu tebangan pohon yg dijadikan rangka, dapur pake tungku dan kayu," ujar Andhika di kantor ACT, Jakarta, Kamis (6/9/2012).
"Tempat MCK, kakusnya kering, tidak ada air yang mengalir, di bawahnya adalah tanah. Kotor sekali," tambahnya.
Tim ACT pun berniat membangun WC umum bagi warga Rohingya yang tinggal di kamp pengungsi Saplapur. Sejauh ini, warga Rohingya di Saplapur masih jauh lebih menderita ketimbang yang tinggal di Teknaf (perbatasan Myanmar).
Bocah-bocah Rohingya juga sering terlihat sedang bermain dalam keadaan bugil. Mereka sama sekali tidak memiliki pakaian. Mereka pun mengalami kekurangan gizi dan hal itu terlihat dari perut-perut mereka yang buncit. (rhs)
getting time ...
Belajar Bahasa Inggris melalui dua berita BBC tentang penemuan ratusan cakar beruang dan kasus pencurian bayi di Spanyol.
What are the things in life you can't live without? A survey reveals what British people need.
The BBC gets a royal visitor. Queen Elizabeth officially opens the BBC's new headquarters.
Kamis, 20 Juni 2013 12:02 WIB
Kamis, 20 Juni 2013 11:02 WIB
Kamis, 20 Juni 2013 10:15 WIB