Militer Korut Terpecah, Ada Kubu Kim Jong-Un & Kim Yong-Nam

Rabu, 10 April 2013 23:13 wib | Aulia Akbar - Okezone

Foto : Angkatan Udara Korut (KCNA) Foto : Angkatan Udara Korut (KCNA) SEOUL -  Militer Korea Utara (Korut) dikabarkan terpecah belah ketika Kim Jong-Un menyuarakan titahnya. Beberapa orang personil militer dikabarkan kabur dari Korut karena berseteru dengan rivalnya.

Salah seorang letnan di militer Korut yang berusia 42 tahun terpaksa melarikan diri dari Korut setelah membunuh rekannya. Rekan yang dibunuhnya adalah seorang perwira pendukung Kim Jong-Un.

"Saya membunuh seorang komandan yang memiliki pangkat yang sama dengan saya. Dia memimpin fraksi yang mendukung Kim Jong-Un. Terjadi dua perkelahian, mereka mengepung kami dan menangkapi banyak orang," ujar seorang letnan yang memiliki nama depan Kim, seperti dikutip Telegraph, Rabu (10/4/2013).

Perseteruan antar militer itu dikabarkan sudah terjadi pada akhir 2011 tepat setelah Jong-Un naik takhta menggantikan ayahnya. Jong-Un pada saat itu diangkat menjadi "komandan tertinggi" Pasukan Rakyat Korut yang berjumlah 1,2 juta.

"Semua itu terjadi ketika dia berkuasa, namun kami semua sudah tahu sejak dulu bahwa dia pasti terpilih menjadi pemimpin. Banyak yang menentangnya, mereka semua akhirnya ditahan," papar Letnan Kim.

Kim sendiri mengaku, dirinya berada di kubu militer pendukung Kim Yong-nam yang merupakan Presiden Presidium Majelis Tinggi Rakyat Korut. Pria berusia 85 tahun itu sempat mengunjungi Indonesia pada 2012, 2005 dan 2002 lalu.

Salah seorang pakar militer Korut Joseph Bermudez juga berpendapat bahwa bila kita berada di Korut, kita semua akan mendengar banyak rumor mengenai kubu-kubu militer. Beberapa kubu itu terus memperdebatkan, siapa yang pantas menjadi pemimpin.

Sebagai seorang mantan personil militer Korut, Letnan Kim yang berasal dari Uiju menceritakan pengalamannya ketika melarikan diri ke China dan pindah ke Korea Selatan (Korsel). Letnan Kim mengaku sempat terharu ketika meninggalkan negaranya.

"Kita tahu, Korsel sedang berada dalam transisi demokrasi, dan mereka memiliki banyak makanan. Saya tidak pernah makan nasi, dan saya menangis ketika saya mencium bau masakan di China," ujarnya. (AUL)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »