Amerika Serikat (AS) mencurigai bahwa Iran berada di balik aksi kekerasan yang terjadi di Afghanistan beberapa waktu lalu. AS mengklaim Iran memerintahkan agen rahasia mereka, untuk memprovokasi warga Afghanistan.
Lima orang prajurit Amerika Serikat (AS) dianggap terlibat langsung dalam insiden pembakaran Alquran di pangkalan militer Bagram, Afghanistan. Namun desakan untuk mereka diadili secara massal, terus terdengar.
Dua pasukan North Atlantic Treaty Organization (NATO) dilaporkan tewas setelah ditembak oleh seorang warga sipil dan seorang lagi yang diyakini adalah pasukan Afghanistan di Selatan negara itu.
Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama membela diri permintaan maaf resminya kepada Presiden Afghanistan Hamid Karzai, mengenai pembakaran Alquran. Menurutnya hal itu dilakukan untuk menenangkan keadaan.
North Atlantic Treaty Organization (NATO) didesak untuk tetap berfokus dalam menciptakan stabilitas di Afghanistan. Meski saat ini aksi protes menentang pembakaran kitab suci Al Quran masih berlangsung.
Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh mengatakan, insiden pembakaran kitab suci oleh pasukan North Atlantic Treaty Organization (NATO) di Afghanistan merupakan kampanye global untuk melecehkan agama.
Presiden Amerika Serikat (AS) Barak obama menegaskan, gelombang aksi protes yang terjadi di Afghanistan terkait pembakaran Alquran tidak akan menggagalkan strategi perang AS di Afghanistan.
Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu mengatakan, negaranya tidak berencana untuk menarik stafnya dari Afghanistaan. Hal ini terkait penembakan terhadap dua staf penasihat Amerika Serikat (AS) di kantor Kementerian Dalam Negeri Afghanistan.